Khotbah Jumat Agung, 3 April 2026
Warna Liturgi : Merah
Jumat Agung
Perikop : Yohanes 19:16–30
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kita semua pasti pernah merasakan perasaan lega saat sesuatu yang berat, yang rumit, yang sulit akhirnya selesai. Seorang petani yang menyelesaikan pekerjaannya di ladang atau sawah, atau orang tua yang melihat anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik, setelah perjuangan yang panjang. Tentunya semua itu membawa rasa puas dan berlimpah dengan syukur.
Namun, tidak ada penyelesaian yang lebih agung daripada yang diucapkan Yesus di kayu salib: “Sudah selesai.” Kata ini bukan sekadar akhir dari penderitaan Yesus, tetapi tanda kemenangan kasih Allah yang menyelesaikan karya keselamatan manusia. Dalam bahasa Yunani, kata “sudah selesai” diterjemahkan “Tetelestai”, artinya tuntas, sempurna, lunas dibayar. Di salib, Yesus memberikan tanda “lunas” atas dosa-dosa manusia.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Yesus datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, tetapi kehendak Bapa yang mengutus-Nya (Yoh. 6:38). Dari Ia lahir di palungan hingga mati di salib, seluruh hidup-Nya adalah ketaatan. Di Getsemani Ia bergumul, namun akhirnya berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Pilatus akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan, bukan karena Yesus bersalah, tetapi karena tekanan massa dan para pemimpin Yahudi. Yesus memikul salib-Nya sendiri ke tempat hukuman. Ia membawa salib yang menjadi simbol kutuk dan menanggung hukuman yang seharusnya jatuh kepada manusia.
Di atas kayu salib Yesus terdapat tulisan: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi. Disadari atau tidak, tulisan Pilatus menegaskan identitas Yesus. Meskipun tulisan itu dibuat sebagai tanda penghinaan, tapi dari penghinaan itulah Allah menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja sejati. Nubuat-nubuat digenapi sepenuhnya. Tidak ada nubuatan yang tertinggal. Yesus disalibkan bersama dua penjahat (Yesaya 53:12), prajurit membagi pakaian dan mengundi jubah Yesus (Mazmur 22:19), Yesus haus (Mazmur 69:22).
Dalam dunia perdagangan zaman Yesus, kata “Tetelestai” sering ditulis pada kuitansi untuk menyatakan bahwa hutang telah dibayar lunas. Dengan kata itu, Yesus menyatakan bahwa hutang dosa manusia telah dilunasi dengan darah-Nya. Tidak ada lagi korban yang perlu dipersembahkan, tidak ada lagi dosa yang belum diampuni. Salib Kristus menandai akhir dari kutuk dosa, dan awal dari kehidupan baru dalam kasih karunia. Bagi dunia, salib tampak seperti kekalahan. Tetapi bagi orang percaya, salib adalah tanda kemenangan. Kemenangan atas dosa, atas maut, dan atas kuasa iblis.
Yesus berkata “Sudah selesai,” lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika Yesus berkata “Sudah selesai,” bukan karena kalah, tetapi karena tugas-Nya telah selesai. Dalam hal ini menunjukkan ketaatan total kepada kehendak Bapa. Ia menyatakan bahwa Ia telah menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan Bapa, tanpa kompromi, tanpa keluhan, pantang mundur. Bersedia ditolak, bersedia dihina, bersedia direndahkan, bahkan bersedia mati. Ia tidak melarikan diri. Ia justru menyerahkan diri penuh kasih.
Dari firman Tuhan hari ini kita belajar:
Pertama, “Tetelestai” Menandakan Ketaatan yang Sempurna. Keselamatan tidak mungkin terjadi tanpa ketaatan. Yesus taat sampai mati, agar kita yang tidak taat diselamatkan oleh kasih karunia-Nya. Ketaatan yang sejati bukan hanya saat keadaan mudah, tetapi juga di tengah penderitaan. Yesus telah memberi teladan agar kita pun tetap setia dan taat meski hidup terasa berat. Ketaatan kepada Tuhan adalah bukti kasih kita yang sejati. Ketaatan kepada Tuhan memang tidak selalu mudah, tetapi ketaatan membawa berkat. Kita diajak meneladani Kristus: setia sampai akhir.
Kedua, “Tetelestai” Menunjukkan Penebusan yang Lunas. Kita sering merasa belum layak di hadapan Allah, seolah-olah masih harus “membayar” dosa kita dengan perbuatan baik. Padahal Yesus sudah membayar semuanya di kayu salib. Kita berbuat baik bukan untuk membayar dosa kita. tapi sudah seharusnyalah kita berbuat baik sebagai cara hidup orang yang sudah ditebus oleh darah Yesus. Tetaplah percaya dan hidup benar dalam syukur atas anugerah itu.
Ketiga, “Tetelestai” Deklarasi Kemenangan yang Kekal. Setelah “Tetelestai”, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Kemenangan sejati bukan berarti tidak pernah menderita, tetapi tetap taat dan setia sampai akhir. Kita pun akan mengalami kemenangan bersama Kristus bila kita bertahan dalam iman. Hidup orang percaya bukan hidup yang kalah. Kita berjalan dalam kemenangan Kristus. Apapun pergumulan kita hari ini, baik itu keluarga, ekonomi, atau kesehatan, ingatlah: Yesus sudah menyelesaikannya.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Dalam sejarah gereja pernah ada seorang pelukis bernama Rembrandt yang melukis penyaliban Yesus. Ketika orang melihat lukisan itu, mereka terkejut karena di antara orang-orang yang menyalibkan Yesus, ada satu wajah yang mirip dengan wajah pelukis itu sendiri. Ketika ditanya mengapa ia melukis dirinya di situ, Rembrandt menjawab, “Aku ingin mengingatkan diriku bahwa akulah juga yang menyalibkan Yesus dengan dosaku.”
Jumat Agung mengingatkan kita bahwa Yesus mati bukan karena paku, tetapi karena kasih. Dan kasih itu diberikan untuk bapak, ibu, saudara dan saya. Tinggal satu hal yang Ia harapkan dari kita: Hiduplah dalam kasih itu, dan jadilah saksi-Nya di dunia ini. Kata “Tetelestai” bukan hanya untuk diingat setiap Jumat Agung, tetapi untuk dihidupi setiap hari. Melalui salib, Kristus telah menuntaskan segalanya: Dosa kita telah diampuni, Kutuk telah dipatahkan, Jalan menuju surga telah dibuka. Karena itu, jangan hidup seolah-olah karya itu belum selesai. Mari jalani hidup dengan sukacita, syukur, dan ketaatan, sebab keselamatan kita telah sempurna dalam Kristus. Selamat Jumat Agung. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Liturgi Jumat Agung
PERSIAPAN IBADAH
- Doa Persiapan ibadah (konsistori)
- Saat Teduh
UNGKAPAN SITUASI
L : Jemaat kekasih Kristus, Shalom! Selamat datang dalam Ibadah Jumat Agung. Jumat Agung sebagai sebuah peristiwa agung yang membawa kita memahami makna kematian Yesus Kristus. Dari kematian yang begitu kejam, Ia telah menyelamatkan kita. Ia tetap menjalani segala penderitaan-Nya sampai kematian-Nya dalam mewujudkan penyelamatan Allah bagi manusia. Sebagai umat-Nya, kita dipanggil untuk senantiasa berpengharapan hanya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber kebenaran dan keselamatan kita. Hanya melalui Dia, kita dapat hidup dan dekat kepada Allah Bapa. Oleh karena itu, marilah kita bangkit berdiri, bersama-sama menghayati penyelamatan Kristus dalam ibadah Jumat Agung ini.
MENGHADAP TUHAN
Nyanyian Pembukaan KJ 368:1, 3 PADA KAKI SALIBMU
VOTUM DAN SALAM
PF : Pertolongan kita hanyalah berasal dari Allah Bapa, yang menjadikan langit dan bumi. Amin.
Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah mengorbankan diriNya untuk menebus dosa-dosa kita sekalian.
Salam Sejahtera bagi Saudara yang datang di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
J : Salam Sejahtera bagi Saudara juga.
(duduk)
Nas Pembimbing : YESAYA 53: 5
Jemaat menyanyi KJ 183: 1, 2 MENJULANG NYATA ATAS BUKIT KALA
PENGAKUAN DOSA
L : Di hari Jumat Agung peringatan kematian Tuhan Yesus, kita mengingat kesengsaraan-Nya,
karena kita. Mari mengaku dosa di hadapan Allah: Saat itu, selama tiga jam di siang terang,
bumi diliputi kegelapan. Terjadi peristiwa alam yang luar biasa menjadi sebuah keajaiban!
Kami datang kepada Tuhan dengan bersujud di hadirat-Mu, kami mengakui segala kesalahan
dan pelanggaran kami yang mendukakan hati-Mu. Seringkali kami mengabaikan firman-Mu,
kami angkuh dan tidak peduli dengan alam sekitar.
J :Ampuni dosa kami
L : Saat itu, tabir bait suci terbelah dua. Tanda bahwa kematian Yesus telah meruntuhkan
pembatas antara Allah dengan manusia. Kami kurang menghayati makna tentang kasih-Mu
bagi kami, karenanya kami sulit menunjukkan kasih kami terhadap sesama ..
J :Ampuni dosa kami
L : Engkau menyerahkan nyawa-Mu kepada sang Bapa, mengingatkan kami tentang berat
penderitaan-Mu yang menanggung hidup kami … Sementara, penghayatan dan empati kami
bagi mereka yang sakit dan kesusahan, terbatas! Kami kurang peduli dan tidak suka menolong
orang lain.
J :Ampuni dosa kami
L : Menyaksikan kematian Yesus, kepala pasukan memuliakan Allah! Tapi kerap kami
meragukan kuasa-Mu dan kurang percaya. Kami lalai menyaksikan kuasa dan pertolongan-
Mu kepada dunia, dan tidak rajin menceritakan tentang Kristus Juruselamat dunia.
J : Ampuni dosa kami
L : Inilah pengakuan umat-Mu … dengarlah doa kami. Amin.
Jemaat menyanyi KJ 170: 1 – 3 KEPALA YANG BERDARAH
BERITA ANUGERAH
L : Kepada setiap orang yang telah mengaku dosa dan bertobat, disampaikan
berita anugerah pengampunan seperti tertulis dalam SuratRoma 6:23 yang menyatakan……
Berdasarkan Firman Tuhan ini, sebagai pelayan Yesus Kristus kami memberitakan bahwa pengampunan dosa telah berlaku dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus,
J : Syukur kepada Tuhan, amin.
Jemaat Menyanyi KJ 178: 1, 2 KAR’NA KASIHNYA PADAKU
PEMBERITAAN FIRMAN
- Doa mohon bimbingan Roh Kudus
- Pembacaan Alkitab
PF : Bacaan Alkitab Hari ini terambil dari InjilYOHANES 19:16–30: …
”Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan memeliharanya.Sabda-Mu Abadi… ”
J : Sabda-Mu Abadi..
KHOTBAH: TETELESTAI: KARYA KESELAMATAN YANG SEMPURNA
Saat Teduh & Doa (Diakhiri Doa Bapa kami )
RESPON FIRMAN
Jemaat Menyanyi PKJ 85:1, 2 TERPANCANG SALIB DI BUKIT GERSANG
PENGAKUAN IMAN RASULI (berdiri)
PERSEMBAHAN SYUKUR (duduk)
PF : Jemaat Tuhan, marilah kita membawa persembahan kepada Tuhan sebagai tanda syukur, atas anugerah keselamatan yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Dengarlah Firman Tuhan dalam SuratGalatia 2:20: ……
Jemaat Menyanyi KJ. 393: 1 – TUHAN BETAPA BANYAKNYA
DOA SYUKUR (berdiri)
PENGUTUSAN
PF :Kematian Kristus menyelamatkan kita, menjadikan kita hidup dalam kebenaran. Pengorbanan-Nya di kayu salib diberikan untuk kita yang ada di dunia. Mari kita mengungkapkan kesediaan kita untuk memandang dan meneladani salib Kristus. Percayalah bahwa Dia tetap dekat. Sebab tiada tangis dan air mata yang oleh Kristus tidak mengerti.
Jemaat Menyanyi PKJ. 179: 1 – 2 ”KASIH PALING AGUNG”
BERKAT
PF :Jemaat yang dikasihi Tuhan, pergilah dengan damai sejahtera.
Angkatlah hati dan arahkanlah pikiranmu kepada Tuhan, serta terimalah berkat Tuhan:
Tuhan memberkati kita dan melindungi kita. Tuhan
menyinari kita dengan wajahNya dan memberi kita kasih
karunia. Tuhan menghadapkan wajahNya kepada kita dan
memberi kita damai sejahtera. Amin
J : Haleluya.. Haleluya.. Haleluya.. Amin.. (PKJ 294)


Leave a Reply