Khotbah Minggu, 26 April 2026
Warna Liturgi : Putih
Minggu Paskah IV
Perikop : Mazmur 23:1-6
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Mazmur 23 adalah nyanyian iman Daud yang cukup akrab bagi umat percaya. Mazmur ini terkenal karena keindahan syairnya. Banyak umat yang mungkin hafal dan sering mengucapkannya di saat duka cita maupun suka cita. Namun di balik keindahan kata-katanya, tersimpan kekuatan iman yang mendalam. Mazmur ini lahir dari perjalanan hidup Daud yang penuh tantangan. Dari ancaman, pengkhianatan, hingga lembah kekelaman. Semua tidak membuat Daud meninggalkan Tuhan. Tetapi sebaliknya Daud tetap yakin akan pemeliharaan Tuhan.
Daud menulis Mazmur ini sebagai seseorang yang tahu benar arti menjadi gembala. Di masa mudanya ia pernah menjadi seorang gembala. Menjaga kawanan domba, melindungi mereka dari bahaya, dan mencari domba-domba yang tersesat. Dari pengalaman itu, Daud mengenal hati seorang gembala yang penuh kasih dan tanggung jawab. Maka ketika ia berkata, “Tuhan adalah gembalaku,” ia sedang menyatakan pengalaman hidupnya sendiri: sebagaimana ia menjaga dombanya, demikian juga Tuhan menjaga kehidupannya.
Bagi Daud, Tuhan bukan sosok yang jauh, melainkan Pribadi yang dekat dan hadir dalam setiap langkah hidupnya. Ketika ia berkata, “takkan kekurangan aku” (1), itu bukan berarti hidupnya tanpa masalah. Justru di tengah segala kesulitan, Daud menyadari satu hal: bersama Tuhan, ia memiliki segala yang dibutuhkan. Kepenuhan hidup bukan diukur dari harta, tetapi dari kehadiran Tuhan yang memelihara.
Daud kemudian menggambarkan bagaimana Tuhan bekerja di dalam hidupnya:
“Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang” (2). Seorang gembala sejati tahu kapan dombanya lelah dan di mana mereka bisa beristirahat dengan aman. Begitu pula Tuhan mengenal batas kekuatan umatnya. Ketika kita lelah oleh tekanan hidup, Ia membawa kita pada kedamaian yang sejati. Bukan hanya ketenangan dari luar, tetapi juga ketenangan hati yang bersumber dari kasih-Nya.
Dalam terang Paskah, gambaran ini menjadi lebih indah. Kristus yang bangkit adalah Gembala yang menuntun kita keluar dari kebingungan dan membawa kita pada kehidupan yang baru. Ia menenangkan hati yang gelisah dan menyegarkan jiwa yang lelah.
Daud melanjutkan, “Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (3). Kata “menyegarkan” berarti memulihkan atau mengembalikan jiwa yang tersesat. Seperti gembala yang mencari domba yang hilang, Tuhan pun mencari dan menuntun kita kembali dengan kasih yang tidak menyerah. Kasih Tuhan bukan kasih yang diam, melainkan kasih yang bergerak mengejar dan memulihkan. Ia menuntun kita ke jalan yang benar, bukan karena kita layak, tetapi karena Ia setia.
Hidup manusia memang tidak seperti selalu di padang hijau. Ada kalanya kita berjalan dalam lembah gelap. Daud tahu itu, sebab ia berkata: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (4). Perhatikan perubahan kata-kata Daud, dari “Ia membimbing aku” menjadi “Engkau besertaku.” Di lembah penderitaan, relasi Daud dengan Tuhan menjadi lebih akrab. Ia tidak lagi berbicara tentang Tuhan, tetapi langsung berbicara kepada-Nya. “Lembah kekelaman” melambangkan bahaya dan penderitaan hidup. Namun Daud tidak takut, karena ia tahu bahwa kehadiran Tuhan lebih besar daripada kegelapan apa pun.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Dalam terang Paskah, ini menjadi kesaksian tentang Kristus, Sang Gembala yang baik, yang lebih dulu berjalan melewati lembah maut dan mengalahkan kematian. Karena itu, kita pun dapat berjalan tanpa takut, sebab Tuhan sudah membuka jalan menuju hidup yang kekal.
Sesudah melewati lembah, Daud melihat berkat Tuhan yang melimpah, ia mengatakan: “Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (5). Kini Tuhan digambarkan bukan hanya sebagai gembala, tetapi juga Tuan rumah yang memuliakan tamunya. “Meja di hadapan lawan” melambangkan kemenangan; “minyak di kepala” menandakan kasih dan sukacita; “piala penuh” adalah lambang berkat yang melimpah.
Kasih Tuhan tidak berhenti pada perlindungan, Ia membawa umat-Nya kepada kehormatan dan sukacita yang sejati. Dalam Kristus yang bangkit, kita tidak hanya diselamatkan, tetapi juga diundang untuk menikmati perjamuan kasih bersama-Nya.
Akhirnya, Daud menutup mazmurnya dengan puncak pengakuan iman: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (6). Kata “mengikuti” di sini berarti “mengejar.” Artinya, bukan kita yang mengejar berkat Tuhan, tetapi kasih dan kebaikan Tuhanlah yang terus mengejar kita. Kasih itu tidak berhenti di masa lalu, tidak lenyap di masa kini, dan tidak akan berakhir di masa depan. Dan ketika Daud berkata, “Aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa,” ia menegaskan bahwa hidup sejati adalah hidup yang berakar di hadirat Tuhan. Hidup yang dipenuhi kasih, dikelilingi kebaikan, dan dikuatkan oleh pengharapan yang kekal.
Jemaat GKSBS yang dikasihi Tuhan, dewasa ini kita diperhadapkan pada situasi yang penuh tantangan. Banyak orang-orang yang sulit mencari lapangan kerja, usaha yang semakin susah berkembang, hubungan rumah tangga yang semakin rumit, pendidikan anak yang semakin mahal, penyakit yang tak kunjung berkesudahan dan berbagai macam kesesakan yang membuat kehidupan hari ini terasa berat . Seumpama kita sedang berjalan dalam lembah kekelaman. Dari Mazmur ini kita belajar dan menyadari bahwa Pertolongan Tuhan nyata ada dalam kehidupan umat-Nya. Oleh karena itu, tetaplah berserah kepada Tuhan dalam menghadapi setiap kesesakan itu. Alih-alih mencuri atau menipu, tetaplah menjadi orang yang optimis dan tidak ragu dalam membuka peluang baru untuk mencari kerja. Alih-alih menjatuhkan usaha orang lain di tengah persaingan usaha, tetaplah berinovasi. Alih-alih melakukan tindakan KDRT ataupun perselingkuhan, tetaplah berusaha dan belajar membina keluarga yang harmonis. Alih-alih kita sibuk ke dukun dan menghabiskan pengharapan kita pada kesia-siaan, tetaplah mengusahakan kesehatan dengan berobat ke tenaga medis.
Mari kita berjalan bersama Dia dengan hati yang percaya dan langkah yang setia, sebab hanya di bawah pemeliharaan-Nyalah, kita akan menemukan kasih dan kebaikan yang sejati di dalam kehidupan kita.
Nas Pembimbing : Yohanes 10:11
Berita Anugerah : Yesaya 55:7
Nas Persembahan : Amsal 3:9
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : PKJ 2
- Nyanyian Pujian : PKJ 7
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 270
- Nyanyian Responsoria : KJ 415
- Nyanyian Persembahan : PKJ 146
- Nyanyian Penutup : KJ 413


Leave a Reply