Lain-Lain

PEREMPUAN SEBAGAI PENJAGA PERDAMAIAN DALAM KELUARGA

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

PEREMPUAN SEBAGAI PENJAGA PERDAMAIAN DALAM KELUARGA

(SriYully)

 

Bersama dengan Komunitas Perempuan GKSBS Daya Murni, dalam Retret tanggal 23 Maret 2012 di Bandar Jaya, kami berefleksi bersama, bernyanyi dan mencipta lagu bersama dengan bahasa sederhana namun itulah konteks mereka. Kaum Ibu yang dengan semangat persekutuannya, ingin menciptakan suasana yang dapat mereka nikmati dengan merdeka.

Refleksi:

Belajar dari ibu Ribka (Kej. 27:44-45): kaum perempuan membayangkan, Ribka adalah istri, ibu, perempuan biassa yang dalam pemahaman pembaca Alkitab seringkali disudutkan dengan tuduhan sebagai pemicu terjadinya persoalan, pertikaian dan penipuan dalam keluarganya. Tetapi Ribka tetaplah seorang ibu, yang tidak ingin kehilangan anak-anaknya. Ribka adalah sosok ibu yang mencoba mencari solusi damai bagi anak-anaknya yang mengalami pertikaian. Ia tetaplah seorang ibu yang mengharapkan kedamaian dalam rumah tangganya, yang tidak ingin kehilangan anak-anaknya. Ia tidak membela salah satu anaknya. Ia tidak menyarankan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan: “Pergilah ke rumah pamanmu, tunggulah di sana, sampai amarah kakakmu reda”.

DALAM RUMAH BERSAMA, PERAN PEREMPUAN ADALAH SEBAGAI PENJAGA PERDAMAIAN

Perempuan, dalam Rumah Bersama GKSBS adalah perempuan cerdas, kreatif dan bijaksana yang dengan kelembutannya ia setia mengelola rumah kita. Mereka kaum yang teliti dalam memenege ekonomi keluarga demi kelangsungan kehidupan. Kreatif dalam mengatasi masalah dan konflik, setia bersujud dan berdoa demi kebahagiaan anggota keluarganya, dan bijaksana dalam mengambil keputusan – solusi perdamaian bagi semua pihak.

Maka kehadiran kaum perempuan di GKSBS tidak dapat diabaikan. Mereka sadar bahwa keberadaan mereka sebagai penjaga perdamaian dalam sebuah rumah sangatlah dibutuhkan. Dalam Lokakarya Eklesiologi GKSBS, 17-19 April 2012, kaum perempuan menyatakan suara hatinya:

“Kami butuh ruang untuk berefleksi, berekspresi, berbagi cerita dan saling menguatkan. Kami butuh peran untuk turut  berkarya dalam menciptakan cinta kasih, persaudaraan, perdamaian dan pengharapan bagi semua orang di dalam Rumah Bersama kita”…

 

 

 

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment